Senin, 12 September 2016

Motor Harian yang Cocok dengan Kondisi Jakarta

Hallo guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Sebelum memulai artikel saya ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1437H bagi yang merayakan. Oke langsung saja kita masuk ke artikel. Seperti pada pembahasan sebelumnya tentang Penggunaan Motor Sport Untuk Harian, Nyaman atau Tidak ?. Pembahasan kali ini adalah untuk membahas motor-motor apa saja yang cocok untuk dipakai harian dengan kondisi Jakarta yang terkenal dengan macet dan panasnya.


Kondisi Macet di Jakarta

 


Dengan kondisi macet yang terjadi hampir setiap harinya (kecuali hari Minggu), banyak orang yang beralih menggunakan motor agar lebih dapat cepat sampai ke tujuan. Namun semakin ke sini naik motor pun juga pasti tidak terhindar dari macet karena perkembangan penduduk dan harga-harga motor yang banyak terjangkau di kalangan masyarakat. Jika kalian yang tinggal di Jakarta pasti sudah tidak asing dengan daerah Sudirman, Thamrin, dan Kemanggisan. Daerah tersebut memang terkenal dengan kemacetan yang sangat padat.

Pilihan Motor yang Cocok untuk Kondisi Macet di Jakarta :

 

1. Yamaha Nmax 155

Yang pertama adalah Yamaha Nmax 155. Motor big scoot dengan tampilan yang sporty ini sangat cocok untuk pemakaian harian di Jakarta. Selain modelnya yang enak untuk dipandang, riding positionnya sangat nyaman dan bisa membawa banyak barang karena kapasitas bagasinya yang ada dibawah jok cukup luas. Konsumsi bensinya tidak boros, hanya saja tidak seirit motor matic yang lainnya, hanya mencapai 36km/liter. Namun fitur yang diaplikasikan pada Yamaha Nmax pun sangat lengkap dibanding motor matic lainnya, seperti lampu utamanya yang sudah LED dan panel speedometer yang lengkap membuat ingin berlama-lama di motor ini. Dengan harga Rp24.000.000 untuk yang non ABS dan Rp.27.400.000 untuk yang ABS.


2. Honda Vario 125 


Yang kedua adalah Honda Vario 125. Dengan riding position yang nyaman serta dengan bodi yang tidak terlalu besar, sangat lincah untuk keadaan Jakarta yang macet. Walaupun bagasinya tidak seluas Nmax, tapi masih bisa untuk menaruh barang-barang dengan ukuran yang agak besar. Namun sayangnya fitur pada motor ini tidak selengkap seperti motor-motor keluaran terbaru yang sudah mengaplikasikan lampu LED pada lampu utamanya dan juga yang sangat disayangkan motor ini pun sudah discontinue alias udah ga produksi lagi huhuhu (masih bisa cari yang bekas tapi mulus kok hehehe). Tapi untuk konsumsi bensinnya termasuk sangat edaaannnn, kenapa ? Bisa menempuh jarak 58km/liter. Kalo isi full bisa muter-muter Jakarta sampe mabok hahaha. Harga barunya dulu mencapai Rp.18.000.000, mungkin sekarang secondnya sudah berkisar diantara Rp.13.000.000 sampai Rp.15.000.000.


 3. Honda Vario 150


Yang ketiga adalah Honda Vario 150. Seperti leluhurnya (asik bahasanya leluhur hahaha) Honda Vario 125, motor ini hanya mengalami beberapa perubahan saja, seperti lampunya yang sudah LED, model velg baru, model bodi yang lebih elegan, dan kubikasi mesin menjadi 150cc. Hanya saja karena kubikasinya dinaikan, konsumsi bensinnya hanya mencapai 52km/liter. Dan harganya pun sekarang sudah mencapai Rp.20.500.000.


4. Yamaha Jupiter MX King 150


Yang terakhir ada Yamaha MX King 150. Dari semua motor bebek paling enak yang pernah saya gunakan adalah motor ini. Walaupun mengunakan kopling, tapi riding positionnya lebih nyaman dan lebih sporty dibanding bebek lainnya. Di pembahasan artikel sebelumnya tentang Review Yamaha Jupiter MX King 150, BehindTwoWheels sudah pernah menjelaskan kalau shock breaker dengan tipe monoshock yang sagat empuk membuat motor ini sangat nyaman dikendarai di Jakarta yang terkenal dengan macet yang sangat parah. Ditambah dengan tenaga yang cukup besar di kelasnya, selain lincah, motor ini pun bisa mengantarkan kita ke tujuan dengan cepat (tapi ga ngebut-ngebut ya hehehe). Fiturnya pun juga sudah lumayan canggih, seperti lampu Halogen, ukuran ban yang cukup lebar sehingga aman untuk dipakai sehari-hari, dan panel speedometer yang ketika dinyalakan terdapat tulisan "Hi Buddy" yang dapat diganti dengan nama kita sendiri, wow keren ya guys. Konsumsi bahan bakarnya pun mencapai 49,8km/liter, sangat irit untuk motor dengan tenaga besar seperti Yamaha Jupiter MX King 150. Harga untuk motor ini mencapai Rp.19.000.000.

Kalau Disuruh Memilih, Pilih yang Mana ?


Kalau saya pribadi pasti pilihan saya akan jatuh pada nomor 1, yaitu Yamaha Nmax, kenapa ? Karena saya menginginkan sensasi berkendara yang nyaman serta tenaga yang lumayan besar. Lalu kita juga bisa membawa barang yang cukup banyak dan bisa menaruh dibagasinya yang cukup luas. Dan dengan konsumsi bensin 36km/liter menurut saya itu sudah termasuk irit.

Kesimpulan


Dengan kondisi jalanan Jakarta yang sangat macet, motor dengan riding position ternyaman, bensin teririt, dan harga yang paling bersahabat di kantong menjadi pilihan yang tepat.

Oke sekian dulu artikel kali ini. Semoga artikel ini bisa membantu kalian yang sedang ingin mencari motor harian yang sesuai dengan keinginan kalian. Mohon maaf bila ada salah kata. 



Jumat, 26 Agustus 2016

Arogan Dalam Berkendara

Hallo guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Setelah beberapa lama ga update karena kesibukan yang sedang dialami, akhirnya sekarang bisa update lagi. Ide untuk pembahasan kali ini muncul karena semakin banyaknya tipe-tipe pengendara roda dua di jalanan setiap harinya. Nah kali ini saya akan memberian beberapa contoh arogan dalam berkendara :

Menerobos Lampu Merah



Tipe arogan ini adalah tipe yang sudah sering kita lihat di jalan raya setiap harinya. Karena merasa tidak ada polisi yang memantau, jadi langsung seenaknya saja. Bagus kalau saat kita menerobos lampu merah tidak ada pengendara lain, kalau ada bagaimana jadinya ?

Menerobos Jalur Busway



Saking gamau kena macet sampe bela-belain lewat jalur busway. Jika terkena razia pasti sebagian besar dari orang-orang tersebut akan mengatakan kalau polisi yang menilang mereka hanya mencari keuntungan pribadi. Jujur saja, saya pribadi juga sangat tidak menyukai yang namanya macet di Jakarta, tapi ya namanya kita tinggal di Jakarta ya sudah harus tau resiko macet yang terjadi setiap pagi (jam berangkat kerja, kuliah, dan sekolah) dan sore (jam pulang kerja, kuliah, dan sekolah). Masukan sedikit saja, jika ingin tidak terkena macet, berangkat lah lebih pagi dan carilah jalan memutar yang tidak ramai dilalui oleh kendaraan setiap harinya. 

Menjudge Pengendara Moge (Motor gede) Arogan



Inilah contoh arogan yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan pengendara motor di kota besar seperti Jakarta. Jujur sebenernya hal seperti ini menurut BehindTwoWheels seperti menjilat ludah sendiri. Beberapa waktu lalu saat saya sedang streaming video salah seorang motovloggr di youtube (ga sebut nama), di kolom komentarnya terdapat komentar seperti ini : "Pengendara moge emang arogan, berenti di jalur zebra cross, nerobos lampu merah, nerobos jalur busway, dll ". Tapi sampai sekarang pengendara motor di Jakarta saja masih banyak yang melakukan hal tersebut seperti contoh gambar di atas. Seperti kata sebuah peribahasa "Semut di ujung pulau dapat terlihat, tapi gajah di depan mata tidak terlihat".  

Kalau Memakai Moge Boleh Sombong ?


Jawabannya sudah pasti tidak. Mau berapapun kapasitas mesin yang dimiliki, moge tetaplah motor, yang pengendaranya pun harus bijak dalam mengendarainya. Memang ada pengendara moge yang arogan saat di jalan raya, tapi tidak semua pengendara moge seperti itu, karena pada dasarnya sifat manusia berbeda, ada yang bijak dalam mengambil keputusan, adapun yang seenaknya karena berfikir tidak ada yang bisa melarang dirinya. Di sini saya tidak membela pengguna moge ataupun motor biasa, di sini saya hanya ingin memberi tahu bahwa yang harus kalian lakukan adalah mulailah berbenah diri dan sadari lah apa kesalahan kalian. 


"Banyak Kok Motor yang Menerobos Lampu Merah, Jalur Busway, dll"


Kalau mereka loncat dari gedung kalian mau ikutin juga ? Mulailah berani untuk berbeda dalam berkendara, seperti menaati rambu-rambu lalu lintas, tidak seenaknya dalam berkendara, dan menghormati pengendara lain serta pejalan di trotoar. Contoh sederhana saja, jika sesuatu yang harusnya menjadi milik kalian diambil oleh orang lain apakah kalian mau ? Tentunya tidak. Sama saja seperti pejalan kaki di zebra cross dan di trotoar pinggir jalan. Masih banyak kendaraan roda 2 yang dengan arogannya melewati trotoar dan berenti di zebra cross saat lampu merah. Coba jika kalian yang menjadi pejalan kaki, apakah kalian bisa menerima hal tersebut ? Jujur saya sih pastinya ga akan terima. Maka dari itu pun saya sehari-hari berusaha untuk tidak mengambil hak yang menjadi milik pejalan kaki.

"Jangan Sok Suci"


Biarkanlah orang lain berkata apa, yang terpenting kita melakukan yang menurut kita benar. Karena kehidupan adalah dimana orang lain yang mengomentari dan kita yang menjalankan. So don't be afraid to be different *gaya-gayaan pake bahasa Inggris.

Kesimpulan


Jangan selalu mencari kesalahan orang lain karena merasa diri kita benar. Carilah kesalahan kita dan perbaiki kesalahan tersebut agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijak. Walaupun masih banyak pengendara motor yang seenaknya di jalan raya, bukan berarti kita boleh seperti mereka. Jadilah pengendara yang tertib agar tidak merugikan orang-orang di sekitar kita dan juga karena keluarga kita menunggu kita pulang ke rumah.

Nah itulah beberapa tipe arogan dalam berkendara. Jadi sekian dulu pembahasan dari BehindTwoWheels pada hari ini, semoga pembahasan kali ini bisa menjadi masukan yang baik untuk kalian semua yang membacanya. Jangan lupa bagikan juga artikel ini pada orang-orang terdekat kalian ya guys. Mohon maaf bila ada salah kata.



Minggu, 17 Juli 2016

Knalpot Original atau Knalpot KW ?

Hallo guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Sebelum memulai artikel BehindTwoWheels ingin mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin 1437H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Oke pembahasan kali ini sebenarnya baru-baru saja ramai dikalangan para bikers, yaitu tentang knalpot racing. Awalnya juga BehindTwoWheels juga agak bingung, kenapa hanya masalah knalpot jadi harus diperbincangkan sampai harus saling membully antara sesama riders yang menggunakan knalpot racing non original (KW). Tapi semakin ke sini akhirnya BehindTwoWheels mulai mengerti kenapa para produsen dan konsumen knalpot kw selalu mendapat caci maki dari para produsen dan konsumen knalpot original. 

Knalpot Original


Knalpot Original Akrapovic Full Carbon

Oke kita ambil contoh untuk knalpot original Akrapovic Full Carbon yang diproduksi di Slovenia. Tentu saja, dengan mendengar buatan dari Slovenia pasti yang ada di benak kita harga knalpot ini pasti sangat mahal. Dan betul, Akrapovic original untuk silincernya saja sudah berkisar dengan harga sekitar Rp.6.000.000. Tapi harus diingat, ada harga ada kualitas. Tentu saja, namanya juga ori, kualitas suaranya pun tidak bohong. Suara dari knalpot Akrapovic ini terbilang adem ayem dan ga berisik saat mesin berada pada rpm rendah, tapi suaranya akan jadi sangat nyaring dan ngebass ketika memasuki rpm tinggi. Berat knalpot ini pun sangat ringan dan lebih enteng daripada knalpot standart.

Knalpot KW 


 
Knalpot KW Akrapovic 

Bisa kita lihat sendiri, knalpot KW memiliki bahan yang sangat berbeda dengan yang aslinya. Juga emblem dari knalpot tersebut berbeda dengan yang aslinya. Beratnya pun berbeda, yang pasti knalpot KW memiliki berat yang lebih berat ketimbang knalpot original. Harganya pun lebih murah dariapda knalpot original, untuk harga fullsystem mungkin berkisar sekitar Rp.1.000.000. Tapi bukan berarti knalpot KW itu jelek, ada juga knalpot KW yang suaranya bahakan bahannya hampir menyerupai knalpot original.

Jika Disuruh Memilih, Lebih Plih Knalpot Original atau Knalpot KW ?


Kalau BehindTwoWheels sendiri pasti lebih memilih untuk menggunkan knalpot original. Lagipula Indonesia sekarang sudah banyak menciptakan knalpot original dengan harga yang bersahabat, contohnya R9, Wrx, RX8, ProSpeed, Galvince, TDR, CLD, Frontal, dll. Awalnya BehindTwoWheels sendiri berfikir kalau menggunakan knalpot KW itu bukan masalah, yang penting suara gede dan keren. Tapi semakin ke sini, BehindTwoWheels semakin sadar jika kita menggunakan merk lokal original, kita lebih memajukan Indonesia, karena itu membuktikan bahwa Indonesia pun memiliki produk original yang terbilang cukup bagus, sehingga tidak perlu mencuri ataupun menjiplak merk lagi. BehindTwoWheels sendiri pun sekarang menggunakan knalpot RX8 Trigallnt yang bahan, suara, dan modelnya bisa terbilang tidak kalah bagus dengan knalpot-knalpot original buatan luar negeri. Bahkan sudah terlihat pada setiap pertandingan ITS (Indonesia Trackday Series) bahwa knalpot-knalpot lokal buatan Indonesia banyak digunakan untuk pertandingan ITS. Jadi masih malu pakai knalpot original buatan lokal ?

Lalu Bagaimana dengan Para Produsen dan Konsumen yang Masih Menggunakan Knalpot KW ?


Ada baiknya kita tidak perlu membully atau mencaci maki mereka secara terus menerus, karena dari mereka mungkin ada yang tidak mengerti tentang hak cipta penjiplakan merk, maka dari itu mereka tetap memproduksi dan menggunakan knalpot KW. Lebih baik kita berikan mereka edukasi tentang hak cipta penjiplakan merk, dan lebih mengarahkan para produsen knalpot untuk membuat merk mereka sendiri, sehingga mereka tidak perlu menjiplak merk knalpot lain dan bisa lebih menuangkan kreatifitas mereka untuk knalpot buatan mereka sendiri. Sekarang pun sudah banyak knalpot homemade atau buatan sendiri yang kualitasnya terbilang cukup bagus dan modelnya pun terbilang menarik, serta sudah mempunyai merk sendiri. Semoga untuk kedepannya para produsen dan konsumen lebih mencintai produk dalam negeri dan lebih kreatif dalam membuat knalpot mereka sendiri, agar kita bisa membuktikan bahwa Indonesia pun tidak kalah dengan negara-negara lain seperti Slovenia, Italia, Inggris, dll.

Kesimpulan


Jangan pernah merasa malu untuk menggunakan produk lokal. Sekarang sudah banyak knalpot lokal yang kualitasnya tidak bisa diragukan lagi. Bahkan knalpot merk R9 sudah digunakan untuk balapan Moto3 ! Tuh bukti dari produsen knalpot yang membuat merk sendiri, hingga akhirnya produknya diakui dan digunakan oleh nagara luar. Ingat, dimana ada kemauan pasti selalu ada jalan.

Oke sekian dulu dari BehindTwoWheels, semoga artikel kali ini bisa menjadi renungan bagi para riders untuk lebih mencintai produk dalam negeri. Mohon maaf bila ada salah kata.

Rabu, 22 Juni 2016

Underbone atau Raiser Footstep ?

Haii guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Pembahasan kali ini tentang salah satu komponen yang berada pada motor, yaitu footstep (pijakan kaki). Footstep sudah menjadi salah satu kompenen yang penting dalam motor, ya kalo motor tidak ada footstepnya mau memijakan kaki dimana hahaha. Oke, ide untuk artikel kali ini muncul karena obrolan dengan teman-teman sesama two wheels lovers tentang footstep racing atau kita lebih mengenalnya dengan nama underbone.   

Footstep Racing atau Underbone


Footstep Racing atau Underbone


Bikers mana sih yang tidak mengetahui underbone ? Nah underbone adalah salah satu komponen variasi untuk footstep yang dimana posisinya lebih naik dan lebih mundur dibandingkan dengan footstep standart. Underbone sendiri fungsinya adalah untuk membuat posisi riding lebih naik dan lebih mundur, sehingga motor dapat lebih merebah di tikungan. Karena jika dibandingkan, footstep standart posisinya lebih rendah daripada underbone, sehingga membatasi bikers saat akan merebah di tikungan. Biasanya underbone digunakan pada motor-motor sport untuk balapan di sirkuit. Namun seiring berjalannya waktu, bahkan sekarang motor bebek pun sudah bisa menggunakan underbone untuk balapan di sirkuit atau hanya sekedar untuk variasi saja. Namun kekurangan dari underbone sendiri adalah rentan rusak ketika kalian (amit-amit) jatuh dari motor saat sedang dalam perjalanan.

Peninggi Footstep atau Raiser Footstep


Raiser Footstep


Mungkin hingga saat ini beberapa dari kalian masih belum mengetahui tentang raiser footstep. Beberapa waktu lalu ada seorang two wheels lovers dari sosial media instagram menanyakan kepada BehindTwoWheels maksud dari raiser footstep. Nah jadi raiser footstep itu adalah semacam peninggi untuk footstep, seperti kegunaan raiser pada stang untuk membuat stang lebih tinggi, raiser footstep pun membuat agar posisi footstep lebih naik dan lebih mundur seperti underbone. Nah kekurangan dari raiser footstep sendiri adalah jika dipasang ke motor-motor seperti Honda CB150R Streetfire, Kawasaki Ninja 150R, dan Kawasaki Ninja 150RR yang persnelingnya terpisah dari footstep. Seperti gambar di atas, kalian harus menambahkan besi lagi pada persnelingnya agar posisi persneling tidak terlalu jauh dari footstep, sehingga tetap nyaman saat menginjak dan mencungkil persneling, dan usahakan memilih bahan besi yang bagus agar tidak mudah patah atau keropos. Berbeda dengan Yamaha Vixion, Yamaha YZF-R15, Honda CBR150R, Honda CBR250R, Kawasaki Ninja250 RR Mono, Kawasaki Ninja250R/Fi, dan Yamaha YZF-R25, jika ingin memasangkan raiser footstep pada motor-motor tersebut kalian hanya perlu mengganti tuas persnelingnya dengan tuas yang lebih panjang. Jika kalian membeli satu set raiser footstep untuk motor-motor tersebut, biasanya sudah diberikan tuas persneling dengan ukuran lebih panjang dari ukuran tuas perseneling standart. Namun sangat disayangkan raiser footstep tidak diproduksi untuk motor bebek, dengan alasan tipe footstep motor bebek tidak seperti footstep motor sport. 


Contoh Raiser Footstep di Yamaha YZF-R25

Lebih memilih Underbone atau Raiser Footstep ?


Pasti banyak pilihan saat ingin memodifikasi footstep kuda besi kesayangan kalian saat harus memilih antara underbone atau raiser footstep. Mungkin buat kalian yang senang dengan variasi, pasti akan memilih menggunakan underbone, karena modelnya bervariasi dan terbilang cukup menarik, namun harganya terbilang tidak murah. Berbeda dengan raiser footstep yang hanya meninggikan posisi footstep standart saja, namun harganya terbilang cukup murah dan bersahabat. Kalau disuruh memilih, BehindTwoWheels lebih memilih raiser footstep, karena lebih mengutamakan fungsinya untuk menaikan posisi footstep dari posisi semula, dan harganya yang terbilang cukup bersahabat. 

Berapa harga untuk underbone dan harga untuk raiser footstep ?


Untuk underbone, biasanya harganya berkisar dari Rp.250.000 sampai Rp.1.000.000. Bahkan jika menggunakan merk-merk branded, mungkin harganya bisa di atas Rp.1.000.000. Sedangkan untuk raiser footstep hanya berkisar sekitar Rp.150.000. 

Kesimpulan


Jika kalian memang lebih menyukai model, maka underbone bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kalian, karena selain bentuknya yang menarik, underbone pun memiliki berbagai tipe dan jenis yang terbilang sangat menarik. Tapi jika kalian hanya mencari fungsinya saja, raiser footstep bisa menjadi pilihan yang tepat, karena selain harganya yang bersahabat, kita bisa membuat footstep standart terasa seperti underbone. 

Oke sekian dulu pembahasan dari BehindTwoWheels, semoga artikel kali ini bisa menjadi pertimbangan buat kalian ingin memodifikasi footstep motor kalian. Mohon maaf bila ada salah kata. 

Senin, 13 Juni 2016

Review Yamaha Jupiter MX King 150

Haii guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Pada artikel kali ini pengen ngebahas tentang motor sahabat BehindTwoWheels yang bertipe bebek tapi dengan mesin yang setara dengan motor sport. Yap, motor tersebut adalah Yamaha Jupiter MX King 150.

Yamaha Jupiter MX King 150


Yamaha Jupiter MX King 150

Siapa sih yang gak kenal sama motor yang satu ini ? Motor ini diproduksi pada tahun 2015 lalu dengan tujuan untuk bersaing dengan para kompetitornya di kelas hyperunderbone atau bebek hyper. Pada awal kemunculannya, motor ini menjadi sorotan para bikers setanah air karena rumornya yang bisa menyaingi 2 motor sport kelas 150cc Yamaha, yaitu Yamaha New Vixion Lighting / Advance dan Yamaha YZF-R15. 

Bagaimana dengan akselerasi dan handlingnya ?


Kalau masalah akselerasi motor bebek hyper ini termasuk jagonya. BehindTwoWheels sendiri pernah mengetest akselerasi dengan Honda CB150R Streetfire. Saat sama-sama start, motor ini memiliki akselerasi yang sangat luar biasa, dari gigi 1 sampai 3 Honda CB150R Streetfire tidak bisa menempel sama sekali, tapi ketika memasuki gigi 3 ke 4, Honda CB150R Streetfire baru bisa mengejar Yamaha Jupiter MX King 150. Pada saat itu kedua motor sudah mengganti knalpot dengan knalpot racing. Wajar saja, karena tipe mesin dari Yamaha Jupiter MX King 150 adalah SOHC. Jika saja Yamaha Jupiter MX King 150 terlahir dengan mesin DOHC, mungkin Honda CB150R Streetfire milik BehindTwoWheels tidak dapat mengejar diputaran bawah dan atas. Kalau masalah handling, motor ini terbilang memiliki handling yang cukup bagus, apalagi ketika memasuki tikungan. Jika ingin lebih merebah lagi saat ditikungan dengan motor ini, ada baiknya mengganti footstepnya dengan underbone seperti foto motor milik sahabat BehindTwoWheels di atas, karena footstep standart milik Yamaha Jupiter MX King 150 tingginya terbilang cukup rendah dari jalan, sehingga jika menikung dengan footstep standart pasti harus melipat footstep, tapi jarak kemiringannya pun tidak akan terlalu miring.

Harga Yamaha Jupiter MX King 150


Harga untuk motor bebek hyper ini sekarang sudah mencapai sekitar Rp.20.000.000. Tetapi dengan harga tersebut, kalian sudah bisa memiliki motor bebek dengan kubikasi mesin seperti motor sport. 

Posisi riding


Kalau maslah posisi riding di kelas bebek hyper, motor ini adalah yang paling nyaman dari semua kompetitornya, ditambah dengan shock breaker dengan tipe monoshock yang sangat empuk, motor ini sangat layak dijadikan motor harian dengan tenaga yang besar. 

Kesimpulan


Buat kalian yang ingin mencari motor bebek yang nyaman tapi dengan tenaga yang besar, motor Yamaha Jupiter MX King 150 ini terbilang sangat recomended. Motor ini pun dapat dijadikan untuk spesifikasi harian maupun spesifikasi balap. 

Oke sekian pembahasan tentang motor bebek hyper yang satu ini, semoga artikel kali ini dapat membantu buat kalian yang sedang ingin meminang bebek hyper ini. Dan juga mohon maaf bila ada salah kata. 

Sabtu, 11 Juni 2016

Review Knalpot RX8 Trigallnt Kawasaki ZX6R 636 di Honda CB150R Streetfire

Haii guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Ohh iya sebelumnya selamat bermalam minggu buat kalian semua. Ide tentang artikel kali ini sebenarnya berasal dari banyaknya pertanyaan dari teman-teman dan juga orang-orang yang baru dikenal karena sesama two wheels lovers mengenai knalpot RX8 Trigallnt Kawasaki ZX6R 636 yang terpasang di Honda CB150R Streetfire milik BehindTwoWheels.  

Knalpot RX8 Trigallnt

Knalpot racing RX8 Trigallnt


Bikers di Indonesia pasti sudah ga asing lagi dong dengan merk knalpot racing yang satu ini. Knalpot RX8 ini adalah produksi lokal alias buatan Indonesia. Dengan kriteria suara yang adem di rpm bawah tapi sangar di rpm atas, knalpot ini menjadi salah satu knalpot lokal favorit yang diminati para bikers. Knalpot ini RX8 pun memiliki berbagai tipe, seperti Trigallnt, Trioval RC1, Trioval Silver Sandblast, dll.

Knalpot RX8 Trigallnt Kawasaki ZX6R 636 saat terpasang di Honda CB150R Streetfire


Knalpot RX8 Trigallnt Kawasaki ZX6R 636 terpasang di Honda CB150R Streetfire


Untuk first impression, menurut BehindTwoWheels suara knalpotnya termasuk bagus dan unik. Suaranya adem di rpm rendah, tapi ketika memasuki rpm tinggi suaranya menjadi sangat ngebass dan gahar, Suaranya pun tidak pecah dan cempreng saat memasuki rpm tinggi. Pada awalnya knalpot ini sebenarnya saat dipasang tidak sesuai dengan lehernya, karena diameter lehernya tidak selebar diameter silincer RX8nya, dan juga leher knalpotnya sebenarnya punya R9 New Mugello (maklum keterbatasan dana buat bikin leher lagi hehehe). Namun dengan sedikit ide yang dimiliki dan dengan bantuan beberapa teman, akhirnya knalpot ini pun dapat terpasang dengan rapih di Honda CB150R Streetfire milik BehindTwoWheels.




Nah, ini adalah Knalpot RX8 Trigallnt saat masih terpasang di motor Kawasaki ZX6R 636 milik sahabat BehindTwoWheels. 

Harga knalpot RX8 untuk motor sport kelas 150cc


Untuk harga pasaran motor sport kelas 150cc berkisar dari Rp.1.400.000 hingga Rp.1.600.000 dan sudah fullsystem. Menurut BehindTwoWheels, untuk knalpot yg memiliki suara sebagus RX8, harga tersebut adalah harga yang pantas dan wajar, karena sekarang RX8 sudah mulai banyak digunakan oleh motor tipe sport untuk balapan di sirkuit Sentul. Kalau ada yang bertanya harga knalpot RX8 untuk Kawasaki ZX6R 636 atau sekelasnya, mungkin bisa mencapai kisaran diatas Rp.3.000.000. 

Kesimpulan


Jadi kalau ada skala 1 - 10 untuk knalpot RX8, BehindTwoWheels pasti akan memberikan 8,5 hehehe. Knalpot ini pun juga tidak hanya bagus untuk motor sport, untuk tipe bebek dan bebek hyper, knalpot ini pun sangat worth it  karena harga yang bersahabat dan suara yang terbilang bagus. 

Oke sekian dulu dari BehindTwoWheels, semoga artikel kali ini bisa menjadi option buat kalian yang sedang mencari knalpot racing untuk kuda besi kesayangan kalian. Dan juga mohon maaf bila ada salah kata.

Jumat, 08 April 2016

Penggunaan Motor Sport Untuk Harian, Nyaman atau Tidak ?

Haii guys ketemu lagi sama BehindTwoWheels. Setelah lama tidak update karena sibuk dengan urusan kuliah, kali ini Behind Two Wheels ingin sharing beberapa artikel ringan. Buat kalian pengguna motor sport dari kelas 150cc-1000cc++ kalian pasti merasakan kalau menggunakan motor sport sebenarnya sangat tidak nyaman untuk pemakaian harian. Hanya saja terkadang ada beberapa orang yang memang sangat hobi mengendarai motor sport untuk harian dalam cc mesin yang besar, tapi ada juga orang-orang yang memilih menggunakan motor bebek atau matic untuk harian karena dirasa kurang nyaman jika menggunakan motor sport (apalagi dalam cc mesin yang besar) untuk harian.


Posisi riding menjadi salah satu alasan yang paling masuk akal


Sebenarnya jika motor sport yang digunakan hanya berkapasitas dari 150cc - 250cc, untuk pemakaian harian di jalanan Jakarta yang terkenal sangat macet pada jam orang kerja sebenarnya masih oke, karena posisi ridingnya tidak sepegal motor-motor sport dengan mesin 600cc. 

Mesin yang cepat panas sangat tidak cocok dengan kondisi cuaca Jakarta ketika macet dan panas

Mesin yang cepat panas pada mesin motor sport itu adalah hal yg sangat wajar, karena pada dasarnya motor sport didesign untuk performa tinggi, jadi mesin pun akan lebih cepat panas. Tapi mesin motor sport yang kita miliki jika mencapai suhu yang terlalu panas bisa menyebabkan pelambatan dalam performa mesin, hingga dapat membuat mesin mati dengan sendirinya, biasanya kita menyebut ini overheat. Biasanya dalam keadaan overheat, motor harus diistirahatkan paling sebentar 30 menit untuk mengembalikan suhunya pada keadaaan semula. Kalau lagi buru-buru sih ga banget deh kena kejadian kayak begini hehehe.

Biaya perawatanpun terbilang tidak murah


Sumber : www.insidehelmet.com

Pada saat membeli ban di tempat yang terbilang harganya bersahabat saja, teman saya berinisial AE mengganti ban depan dan belakang Honda CBR250R nya dengan menggunakan tipe Corsa R93, harganya saja sudah mencapai Rp.1.100.000, sementara teman saya yang berinisial HT mengganti ban depan dan belakang Kawasaki eR-6n nya dengan menggunakan tipe Battlax S20 harganya mencapai Rp.2.900.000. Mungkin bagi orang-orang yang sudah lama memiliki motor sport cc besar, harga seperti itu tidak terlalu mahal, karena ditempat lain banyak yang harganya lebih mahal. Dan juga konsumsi bahan bakar pada motor kelas 600cc keatas terbilang agak boros, karena cc yang besar dan juga performa mesin dalam kecepatan tinggi. 

Untuk penghematan biaya perawatan pada motor sport anda, ada bagusya digunakan pada saat hari sabtu atau minggu saja


Sumber : www.insidehelmet.com



Sumber : @insidehelmet


Nah inilah alasan BehindTwoWheels dan teman-teman menggunakan motor sport (apalagi dalam cc besar) pada hari sabtu atau minggu. Kondisi Jakarta yang tidak ramai pada hari sabtu dan minggu pagi sangat cocok untuk berkendara dengan motor sport, selain mesin tidak cepat overheat karena kondisi jalanan yang sepi, mengendarai pun menjadi lebih nyaman karena tidak harus merasakan macetnya Jakarta pada hari sabtu atau minggu. 

Kesimpulan

Jadi buat kalian yang ingin memiliki motor sport (apalagi dalam cc mesin yang besar), sebaiknya kalian sudah harus memikirkan biaya yang akan dikeluarkan agar mesin motor tetap dalam kondisi yang fit. Bahkan seiring berkembangnya dunia roda dua, sekarang sudah bermunculan motor bebek ataupun matic yang mengusung mesin dengan kapasitas 150cc, yang berarti sudah setara dengan motor CBR150R, R15, Vixion, dan CB150R Streetfire.

Oke sekian pembahasan singkat dari BehindTwoWheels, semoga artikel kali ini dapat berguna buat kalian yang ingin meminang motor sport, dan mohon maaf bila ada salah kata.